Sistem peradilan Ekuador sekali lagi mengarahkan perhatiannya pada perdagangan spesies yang dilindungi. Pengadilan Pidana Guayas menguatkan hukuman penjara tiga tahun bagi seorang pria yang dituduh mengangkut dan menjual 510 teripang di Kepulauan Galápagos. Keputusan tersebut, yang diumumkan Senin ini oleh Kantor Kejaksaan, mengakhiri banding yang diajukan oleh tim hukum terdakwa.
Peristiwa tersebut bermula pada Oktober 2018, ketika pihak berwenang mendeteksi individu tersebut memindahkan beberapa wadah dan laci logam yang berisi spesimen. Investigasi mengungkapkan bahwa teripang tersebut diangkut dari Pulau Floreana ke San Cristóbal, tempat terdakwa ditangkap saat melakukan perbuatan tersebut. Hukuman awal, yang dijatuhkan pada Oktober 2025, telah menetapkan hukuman penjara dan denda setara dengan sepuluh gaji pokok terpadu, sekitar $4.820.
Rincian kasus dan bukti yang disajikan
Selama sidang banding yang diadakan pada tanggal 28 Juli 2026, pihak penuntut membela keabsahan bukti yang dikumpulkan. Unsur-unsur kunci termasuk kesaksian petugas investigasi, ahli biologi, dan pejabat dari Taman Nasional Galapagos , serta laporan investigasi tempat kejadian perkara dan bukti yang berada di bawah rantai pengawasan. Para hakim memutuskan bahwa pengadilan tingkat pertama telah menilai semua bukti dengan benar dan dengan suara bulat menolak banding pihak pembela.
Teripang merupakan spesies yang dilindungi di Ekuador karena peran fundamentalnya dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut Galapagos. Hukum Ekuador menghukum mereka yang menangkap, mengangkut, menyimpan, atau menjual spesimen flora atau fauna liar yang dilindungi oleh otoritas lingkungan atau perjanjian internasional dengan hukuman penjara satu hingga tiga tahun. Dalam kasus ini, hukuman yang dijatuhkan adalah hukuman maksimal yang diizinkan oleh hukum.
Dampak perdagangan ilegal di Galapagos
Kepulauan Galápagos adalah Situs Warisan Dunia UNESCO dan rumah bagi spesies laut dan keanekaragaman hayati yang membutuhkan perlindungan ketat. Perdagangan teripang tidak hanya memengaruhi keanekaragaman hayati tetapi juga membahayakan keseimbangan ekologis wilayah tersebut . Pihak berwenang telah meningkatkan pengawasan dalam beberapa tahun terakhir, dan kasus seperti ini menunjukkan bahwa keadilan ditegakkan dengan tegas terhadap para pelanggar.
Putusan yang dikuatkan tersebut juga mencakup kewajiban untuk membayar denda sebesar $4.820, yang harus dibayar oleh terdakwa. Tim kuasa hukum terdakwa telah berupaya untuk membatalkan keputusan tersebut, dengan alasan adanya dugaan penyimpangan dalam proses persidangan , tetapi para hakim memutuskan bahwa tidak ada alasan untuk mengubah putusan awal. Dengan keputusan ini, hukuman atas kejahatan terhadap flora dan fauna liar bersifat final.
Pihak penuntut menekankan bahwa kasus ini menjadi preseden untuk tindakan di masa mendatang terhadap perdagangan satwa liar di Kepulauan Galápagos. Kolaborasi antara petugas investigasi, ahli biologi, dan Taman Nasional sangat penting dalam menunjukkan tanggung jawab terdakwa . Komunitas internasional memantau dengan cermat penanganan jenis kejahatan ini di ekosistem yang rapuh seperti kepulauan tersebut.

